Kertas UnCoated Vs Kertas Coated

Minggu, Mei 26, 2013 4 komentar



akhirnya dapet juga kutipan dari dosen kita nih sob.. eh iya Selamat Malam sobat grafika, bagaimana aktivitasnya? semoga setiap kegiatannya bermanfaat yak! oh iya kali ini kita mau membeberkan, mem-beber-kan.. iya, tentang kertas coated dan kertas uncoated.. Lho apa bedanya? kan sama-sama kertas!
Hmm.. begini sob, pernah melihat kertas Coated? dan kertas UnCoated? berbeda bukan? nah iya.. kita mau ngebahas perbedaannya nih sob, sekalian embel-embelnya juga, berbagi ga boleh setengah-setengah kan! hehehe
Nyok kita simak ulasan berikut

Pasti tahu dong kertas uncoated itu kaya gimana?? kita ambil aja salah satu contohnya yaitu kertas HVS. nah! langsung kebayang kertas uncoated itu seperti apa kan? Yap!! kertas yang engga ada lapisan luarnya~ ciri-ciri kertas uncoated adalah :
1. pada umumnya tidak mengkilap, sekalipun ada yang mengkilap itu hanya menggunakan bahan kimia OHB
2. pada umumnya digunakan sebagai kertas tulis atau kertas cetak dengan resolusi yang kecil
3. Permukaannya sedikit kasar (jika dibandingkan dengan kertas Coated)
4. Memiliki sisi Felt dan Wire yang dapat dibedakan
5. Pada umumnya menggunakan Gramatur 60-100gr/m2

beralih dari kertas Uncoated, kita lanjut ke kertas coated, mungkin udah banyak yang tahu jenisnya apa aja, tapiiii.. jarang ada yang tau dijual dimana kan? trus juga belum pada tahu merek yang biasa dijual di pasaran??
kita juga belum tahu, biasanya pesanan langsung ke pabrik atau supplier kertas, karena amat sangat jarang kertas Coated dijual satuan (karena biasanya harganya yang relatif lebih mahal, ex : glossy paper), lanjut ke ciri-ciri kertas coated :
1. pada umumnya mengkilap, tergantung tingkat mengkilap kertasnya. bila diurutkan dari yang biasa (matt paper, Art Paper hingga Glossy paper yang paling Mengkilap)
2. Memiliki lapisan tambahan (coatednya)
3. permukaannya sangat halus
4. biasanya digunakan pada cetakan-cetakan dengan resolusi tinggi yang menuntut kualitas yang terbaik
5. tidak bisa membedakan antara sisi felt dan wirenya
6. biasanya digunakan pada buku-buku cetakan anak, buku tahunan, buku premium yang menuntut kualitas
7. pada umumnya menggunakan gramatur 85-150gr/m2

nah udah kita beberkan tuh ciri-cirinya, namun masih kurang kompleks sob..
tenaaang.. kita akan memberikan perbandingan dan menjelaskan sebabnya secara detail dan mendalam, check this out!

1. Penggunaan tinta pada kertas uncoated lebih banyak ketimbang kertas coated jika menggunakan parameter spectrodensitometer (dengan nilai yang optimal)

Jawab : karena jika dilihat secara mikroskopis, penggunaan tinta yang banyak oleh kertas uncoated adalah untuk mengisi rongga pada pori-pori permukaan kertas uncoated, berbeda dengan kertas coated yang sudah terlapisi sehigga rongga pori-porinya lebih kecil atau bahkan tidak ada sama sekali

2. kertas coated menggunakan cetakan dengan resolusi lebih tinggi dibandingkan dengan kertas uncoated yang menggunakan resolusi lebih rendah

Jawab : kertas uncoated yang dicetak dengan image beresolusi tinggi tidak akan bisa mencapat ketajaman yang diinginkan, dikarenakan ketika tinta yang di transfer ke permukaan cetak, dengan cepat tinta akan menyerap ke pori-pori kertas uncoated, dan menimbulkan permasalahan dotgain (pembesaran raster) serta warna yang kurang pekat (karena sebagian tintanya sudah menyerap), berbeda dengan kertas coated yang terlapisi bahan pigmen dan bahan perekat sehingga kecil kemungkinan bagi tinta untuk menyerap, biasanya proses pengeringan hasil cetakan yang menggunakan kertas coated adalah dengan polimerisasi oksidasi.

3. kertas coated lebih mengkilap, apa penyebabnya dan bagaimana penjelasannya

Jawab : karena kertas coated terlapisi oleh lapisan pigmen yang diikat oleh bahan perekat (sizing) maka permukaan kertas akan semakin halus. sebab kertas coated mengkilap adalah karena pemantulan cahaya yang beraturan membuat mata kita melihat kilauan/pantulan cahaya tersebut dengan jelas, semakin halus (biasanya disebut dengan tingkat glossy) maka akan semakin sempurna pantulan cahayanya (semakin mengkilap)

4. kertas coated lebih tahan terhadap air ketimbang kertas uncoated

jawab : permukaan kertas coated sudah terlapisi oleh bahan pigmen dan bahan perekat (sizing), kemampuan dalam menahan zat cair ini (red. air) bukan semata-mata memang benar-benar tidak menyerap, hanya saja memperlambat penyerapannya saja, berarti ada kemungkinan terjadinya penyerapan? iya, namun membutuhkan waktu yang lebih lama ketimbang kertas uncoated

5. kertas uncoated tidak bisa menggunakan tinta UV, tinta UV hanya dikhususkan hanya untuk kertas coated

jawab : ini salah besar, karena tinta UV bisa digunakan pada semua jenis permukaan cetak sesuai kebutuhan, namun perlu digaris bawahi, selain memerlukan proses pengeringan yang khusus, penggunaan tinta UV juga dipengaruhi faktor ekonomis dan keselamatan, harga tinta UV yang cenderung mahal (ditambah keperluan alat pengeringnya) ada kemungkinan terjadinya keracunan tinta bila mengenai tangan, jikalau kita bisa menggunakan tinta biasa, kenapa harus menggunakan tinta UV?

demikian apa yang bisa kami sampaikan sob, nahhh mungkin ada pertanyaan dari sobat grafika mengenai kertas coated dan uncoated yang belum kami paparkan, kami persilahkan :)
see ya sob, selamat beraktifitas

Acuan Cetak Fleksografi

Sabtu, Mei 25, 2013 0 komentar




Salah satu teknik cetak tinggi yang menggunakan acuan dari karet yang dipasang pada silinder penekan dan barang yang akan dicetak berupa gulungan kertas, lembar alumunium, plastik dan lain-lain dikenal dengan nama flexography. Flexography adalah metode cetak tinggi yang menggunakan mesin cetak berputar (rotasi) dengan dilengkapi klise karet lentur (fleksibel) menggunakan tinta cepat menguap dan cepat mengering, yang kebanyakan diramu dengan dasar alkohol. Tinta cetak yang biasa digunakan pada mesin ini adalah tinta anilin, sehingga mesin cetak ini juga disebut mesin cetak anilin. Tinta aniline adalah cairan encer yang mengandung zat warna anilin dalam keadaan larut dan tidak membutuhkan distribusi. Mesin cetak anilin kebanyakan terdiri dari penyangga rol sederhana, satu unit cetak atau lebih dan alat pengeluaran. Mesin cetak anilin adalah mesin-mesin bersilinder dan mempergunakan penyalur kertas. Pada kebanyakan jalur kertas yang telah dicetak lalu digulung lagi. Acuan cetak anilin pada umumnya berupa blok-blok karet seperti stempel karet, yang dibungkuskan pada silinder dan silinder cetak ini berputar mengenai silinder penekan dan di antara kedua silinder itu kertas yang akan dicetak dilintaskan.


Pada gambar 6.2. diperlihatkan skema gambar mesin fleksografi, dapat dijelaskan sebagai berikut :
A. Bak tinta
B. Cairan tinta yang encer 
C. Rol tinta yang terbuat dari logam atau logam dibungkus karet, rol ini bertugas mengambil tinta dan diteruskan ke rol penghantar (D)
D. Rol penghantar
E. Silinder Acuan
F. Acuan
G. Silinder Tekan









Sumber : E-Book Teknik Grafika dan Industri Grafika Antonius Bowo Wasono Jilid 2

Tinta Cetak fleksografi

0 komentar


Nah, mungkin banyak yang udah tau tinta-tinta cetak offset ataupun sablon, hmm.. kali ini kita bakalan sharing tentang tinta cetak fleksografi nih sobat grafika, dikutip dari E-Booknya kang Antonius Bowo nih sob, langsung saja, check this out!!




tinta cetak fleksografi menggunakan tinta khusus yang encer, yaitu tinta anilin yang cepat kering sesaat setelah menempel pada bahan cetak. Sehingga cocok untuk mencetak berbagai jenis bahan cetak. Pada cetak fleksografi, tinta cetak sangat beragam, karena cetak fleksografi terdapat banyak variabel. Satu jenis tinta tidak mungkin dapat memenuhi semua karakteristik dan aplikasi yang berbeda-beda.

Untuk mencetak yang memerlukan hasil cetakan yang high gloss dengan cetakan yang memerlukan hasil cetak yang matt, tidak mungkin dihasilkan oleh satu jenis tinta, karena karakteristiknya berbeda. Tinta yang sesuai untuk satu jenis pekerjaan dihasilkan melalui kerjasama antara pencetak dan pembuat tinta dalam mengevaluasi berbagai kemungkinan yang terjadi. Untuk memilih tinta yang tepat, perlu dikenali beragai variabel yang dapat ditemui pada
saat pencetakan seperti variasi dari bahan yang dicetak, jenis pelarut tinta yang diinginkan apakah berlandaskan air atau berlandaskan solvent, pigmen yang digunakan, jenis cetakan apakah cetakan permukaan (surface printing) atau cetak laminasi, warna spot/line job atau warna proses dan berbagai variabel lainnya. Seperti telah diketahui, industry kemasan menggunakan beragam bahan yang akan dicetak seperti; kertas, board, film fleksibel, foil dan film metallized. Bahan-bahan tersebut datang dalam berbagai variasi, seperti film fleksibel dapat berbentuk polyethylene, polypropylene, polyester, nylon, cellophane dan coextruded film. Karakteristik dan jenis bahan tersebut tidaka sama, sehingga dalam penentuan tinta juga bisa tidak sama. Pemilihan tinta yang akan digunakan dapat dimulai dari jenis bahan yang akan dicetak, kemudian meminta rekomendasi dari pabrik tinta. Bila tipe cetakan dianggap memiliki keunikan tersendiri, ada baiknya dilakukan percobaan terlebih dahulu sebelum tinta tersebut digunakan untuk produksi.
Ada perbedaan formula antara tinta yang digunakan untuk tujuan cetak permukaan (surface printing) dengan tinta untuk tujuan cetak laminasi. Masalah utama yang akan timbul bila tinta jenis surface (surface print ink) digunakan sebagai tinta laminasi (lamination ink) terletak pada daya rekatnya (bong strenght) yang rendah. disamping itu untuk mencegah terjadinya blocking, tinta jenis surface diberi tambahan lilin (waxes), yang akan semakin mengurangi daya rekat dari tinta tersebut.
Pemakaian tinta jenis laminasi untuk pencetakan permukaan cenderung menimbulkan blocking dan menurunnya kilap (gloss) dari cetakan. Tinta laminasi tidak memerlukan gloss, karena gloss akan diperoleh dari bahan yang akan dicetak. Untuk mencetak jenis cetakan solid (line printing)
menggunakan warna spot, dan pencetakan dilaksanakan dengan memberikan lapisan yang lebih tebal disbanding cetakan menggunakan tinta proses (cyan, magenta, yellow dan black) yang lebih tipis. Perbedaan ketebalan menyebabkan formulasi dari kedua jenis tinta tersebut tidak sepenuhnya sama. Untuk menghasilkan cetakan yang lebih bersih, tinta proses umumnya dikeringkan dengan cara yang lebih lambat, dibanding tinta surface. Dalam memilih tinta, hendaknya mempertimbangkan pula kegunaan akhir dari pr oduk yang dicetak. Sebagai contoh,
label untuk kemasan anti beku (freeze resistant), haruslah tahan terhadap larutan atau bahan pembeku, agar tintanya tidak rontok bila kemasan tersebut dimasukkan ke dalam ruang pembeku.
Pada cetak fleksografi, terdapat tiga tipe tinta yang umumnya digunakan, yaitu tinta berbasis air, tinta berbasis solven, dan tinta UV. Tinta UV mengering (cure) karena bereaksi dengan sinar ultra violet. Sebagian dari tinta berbasis air sama sekali tidak mengandung solven sehingga emisi yang dibuang ke udara amat kecil. Faktor ini kini semakin penting sejalan dengan semakin ketatnya undang-undang pencemaran udara, terutama bagi pencetakan rotogravure konvensional yang masih menggunakan tinta berbasis solven. Berdasarkan kenyataan tersebut, dewasa ini semakin banyak percetakan beralih pada tinta berbasis air, walau penggunaan tinta ini mensyaratkan penggunaan teknik yang tepat dalam mengoptimalkan performance dari mesin cetak yang digunakan. Mengoptimalkan performance dari mesin cetak berarti mencetak dengan kecepatan tinggi, cetakan yang bersih, penge ingan dan pembersihan yang singkat, warna yang kuat, serta penanganan tinta secara minimal. Jenis tinta berbasis air kini tersedia untuk hamper semua bahan, termasuk bahan yang tidak berpori, sehingga hanya sedikit sekali jenis cetakan yang tidak dapat memanfaatkannya. Untuk memenuhi persyaratan kecepatan mesin tersebut, saat ini telah diciptakan mesin fleksografi yang mencapai kecepatan hingga 600 mpm (untuk web web) dan hingga 150 mpm untuk narrow web dengan resolusi cetak hingga 175 (dengan digital printing).

Mesin flexo wide web saat ini menggunakan teknologi central imprssion sehingga material yang melar dapat dikerjakan dengan baik. Contoh PE untuk popok bayi, softex, tissue dan kemasan schrink wrap

Kenalan ama Fleksografi, yuk!!

4 komentar


hey hoo.. morning sobat grafika
dipagi hari yang cerah ini, kita patut bersyukur ya sob sudah diberi kehidupan lagi oleh yang maha kuasa. Nah, selagi diberikan nikmat, jangan lupa untuk selalu bersyukur ya dan juga berikan manfaat sebanyak-banyaknya untuk orang lain. ngomong-ngomong tentang manfaat, kita dari iwowcrew mau ngasih info nih, tentang cetak flexografi yang bisa dikatakan sangat jarang sekali ditemukan di web atau blog yang berbahasa indonesia.
tentu sobat penasaran kan? okeh, kita akan ngasih tau apa sih itu flexografi, walaupun tidak terlalu detail, tapi semoga cukup memberikan wawasan kepada sobat-sobat grafika yah, simak sob :)

Fleksografi/Flexografi


mungkin sebelumnya sobat pernah denger istilah flexografi yah, kalo dipikir-pikir flexo itu sarat dengan istilah fleksibel dan grafi sarat dengan istilah grafika atau cetak, jadi bisa dibilang flexografi adalah teknik cetak yang menggunakan acuan yang fleksibel, pertanyaannya kenapa menggunakan acuan yang fleksibel? ini sedikit melangkah kepada permukaan cetak yang menjadi target cetak si fleksografi. beberapa bahan cetak yang dicetak oleh flexografi bermacam-macam, salah satunya adalah kemasan, kemasan sendiri bermacam-macam, kita ambil contoh disini adalah KARTON BERGELOMBANG atau yang biasa kita kenal dengan kardus kemasan, ada juga yang dicetak diatas plastic sob.. sekarang lagi booming-boomingnya masalah packaging dan tentunya hal ini memberikan dampak positif buat fleksografi kedepannya. Nah dikutip dari E-Booknya kang Antonius Bowo Wasono

Cetak fleksografi adalah sistem cetak yang bentuk acuan cetaknya sama dengan acuan cetak tinggi, tetapi terbuat dari karet dan bahan tiruan lain; tinta yang digunakan cair, umumnya untuk mencetak kemasan/packaging, karton gelombang, (corrugated board), karton dan film plastik. Pengertian lain cetak fleksografi adalah cetak anilin, yaitu suatu cara untuk mencetak kertas-kertas pembungkus (kemasan) dengan mesin rotasi yang acuannya dibuat dari bahan yang kenyal (elastis/fleksibel).
Cetak fleksografi pertama kali digunakan sekitar tahun 1800 di Inggris. Cetak fleksografi mengalami 3 kali perubahan nama yaitu Anilin Printing, Rubber Printing, dan Flexography. Dikatakan Anilin Printing karena tinta yang digunakan adalah tinta khusus yang encer, yaitu tinta anilin. Acuan yang digunakan berasal dari bahan karet yang kenyal, sehingga dikatakan Rubber Printing. Sedangkan pemakaian nama Flexography karena acuan yang digunakan fleksibel terbuat dari karet atau photopolymer sehingga dapat menyesuaikan bentuk silinder plat yang bulat. Karena pemanfaatannya lebih berat ke industri kemasan dan bukan ke industri penerbitan seperti halnya cetak offset, perkembangan dan kemajuan yang terjadi pada teknologi cetak fleksografi menjadi jarang terdengar. Dalam kenyataannya variasi mesin yang memanfaatkan teknologi ini jauh melampaui variasi mesin cetak offset atau rotogravure. Mesin fleksografi diciptakan dalam berbagai ukuran dan model, mulai dari ukuran mini yang dapat dipindah-pindah hingga ukuran yang besar dengan lebar beberapa meter. Mesin ini dapat dimanfaatkan untuk mencetak hampir semua jenis material, mulai dari semua jenis kertas, plastik, kantong semen, hingga karton bergelombang. Disamping itu, cetak fleksografi juga menarik karena tintanya yang cepat mengering sehingga peningkatan produksi dapat dijangkau. 
Pada awalnya kualitas hasil cetak fleksografi memang lebih rendah jika dibandingkan kualitas hasil cetak offset. Resolusi cetak fleksografi juga lebih rendah (48 garis/cm, 120 lpi jika menggunakan metode produksi konvensional), dibandingkan dengan cetak offset yang mempunyai standar resolusi 60 s.d. 120 garis/cm (150 s.d. 300 lpi). Walau bagaimanapun, jika menggunakan pelat cetak modern, terutama yang diproduksi menggunakan sistem computer to plate image, dapat menghasilkan kualitas cetak yang lebih baik. Cetakan yang mempunyai resolusi 60 garis/cm sampai dengan 120 garis/cm dapat diproduksi. Penggunaan pelat cetak tipe terbaru yang mudah beradaptasi terhadap tinta dan tekanan cetak selalu dikembangkan, terutama yang berkenaan dengan unit penintaan, suatu keharusan untuk meningkatkan kualitas hasil cetak fleksografi. Penggunaan mesin cetak fleksografi mengalami perkembangan yang sangat pesat di dunia percetakan. Di akhir tahun 70'an fleksografi hanya memiliki share 10 % dengan pertumbuhan per tahun 4 % ( offset 52 %, rotogravure 28 %) namun di tahun 2006an fleksografi memiliki share 28 % ( offset turun menjadi 45 % dan rotogravure turun menjadi 20 %) dengan pertumbuhan per tahun tetap 4 %. Diperkirakan 5 tahun yang akan datang fleksografi akan memiliki share 33 %, sedangkan cetak offset turun menjadi 35 % dan rotogravure menjadi 15 %.

Macam-Macam Kertas

Minggu, Februari 10, 2013 7 komentar

dari beberapa kali penelusuran, dari blog ke blog, dari web ke web, dari media ke media informasi dan teman ke teman, dll. akhirnya kita menemukan beberapa macam kertas dan karton, perbedaannya hanya terletak pada gramaturnya saja, ya bisa dibilang lumayan banyak sih, sekitar 50an lebih, tapi ya cukup lah, kita kan juga manusia yang memiliki keterbatasan :)
nah langsung aja check this out sob :D

Jenis-Jenis Kertas

1. HVS



2. HVO


3. Bufallo


4. Art Paper
5. Tulip Paper
6. Metalized Gold
7. Papir


8. Oil Blothing


9. Conquerror





10. Glossy Paper


11. MG
12. NCR Bottom


13. Crepe


14. Cassablanca
15. Matt Paper



16. Sticker HVS



17. Rampai Paper
18. Tissu



19. Jasmine Paper



20. Karbon paper



21. Zeta Paper


22. Samsons Paper


23. Samsons Kraft Paper


24. Bottom Paper
25. Kashmire Paper
26. Hawaii Paper
27. TIK



28. Kalkir



29. Linen



30. Linen Jepang


31. Linen Holland
32. Semboja



33. OCC Craft Paper



34. Concord


35. Koran


36. Amalia Paper
37. Kantong teh



38. Rampai Carton
39. Semboja Carton
40. Jasmine Silver
41. Jasmine Gold
42. Jasmine Diamon
43. Mohawk Photopaper
44. Mohawk Felt
45. Duplex



46. Ivory



47. Mohawk White Creme
48. Omega
49. Mohawk Eco Creme
50. Glossy Photopaper
51. BW Paper


52. Flamingo Paper
53. Ink Jet Paper
54. Grandy Paper



55. Grandy Carton
56. Lora Paper
57. Emboss Line Paper


58. Vhynil Paper



59. Chromo Paper


60. BC Paper

Cukup sekian dari kita sob, sebenernya masih banyak lagi karena pembuatan kertas berdasarkan jenisnya tidak ada standar ukuran yang ditentukan (kecuali untuk kertas-kertas yang sudah berstandar), jadi setiap perusahaan juga akan memproduksi jenis-jenis kertas yang berbeda dan dengan nama yang berbeda pula.
Don't Forget to say Thank's :)

Mesin Potong Kertas (Part 1)

1 komentar

ekhmm... pada kesempatan yang sangat langka dan kondisi yang sangat mepet admin akan mencoba, berusaha dan berjuang keras buat sharing tentang mesin potong atau yang bahasa sundanya tuh Cutting Machine sob :)
okeh, jadi gini ceritanya sob, pernah lihat mesin potong kan? yang biasanya ada di ruko-ruko jasa fotocopian, nah itu bentuk sederhananya, cara kerjanya emang begitu, namun mesin potong yang akan kita bahas disini yaitu mesin potong automatic sob. bagi sobat grafika yang mau download pdfnya via ziddu, silahkan download di sini --> iWowcrew


pengertian dari mesin potong itu sendiri (Cutting Machine) adalah mesin yang digunakan untuk memotong kertas, entah itu pada bagian awal penentuan ukuran kertas sebelum pencetakan ataupun setelah pencetakan dengan tujuan merapihkan sisi kertas guna dilanjutkan kepada bagian penjilidan ataupun proses Post Press lainnya.

sejarah dari mesin potong yaitu Sekitar tahun 1800 mulai digunakan mesin potong kertas yang kerjanya menyerupai ketam. Ada juga yang menggunakan pisau bulat yang berputar seperti gergaji. Mesin potong yang berbentuk seperti mesin potong masa kini diketemukan oleh Guillaume Massiquot dari Perancis. Mesin ini diilhami dari quillotine yang di Perancis digunakan untuk hukuman pancung.
Tahun 1837 Thirault dari Perancis membuat mesin potong dengan pisau yang tidak bergerak, tetapi lapak (meja kertas) bergerak ke atas.
Sekitar tahun 1840 dan 1850 mulailah berkembang dari bentuk kacip dan radeer yang dibuat dari kayu. Tahun 1859 Karl Krause, untuk pertama kali mulai membuat mesin potong yang seluruhnya dari besi. Mesin ini terdiri dari tiga ukuran. Untuk pertama kali mesin potong menggunakan tekanan secara mekanis dibuat oleh Karls Krause dengan diberi nama “RAPID”. Mesin ini mempunyai pendorong yang digerakkan oleh pita baja dengan diberi skala ukuran.
Dengan dasar mesin ini, terciptalah mesin-mesin yang ada seperti sekarang dan banyak digunakan.

Bagian-bagian mesin potong kertas Bagian dari mesin potong yang sangat penting adalah pisau potongnya sendiri, penunjuk ukuran dan landasan dengan penepatnya yang siku-siku. Ketiga unsur tersebut sangat menentukan mutu dari hasil potongan kertas. Bagian-bagian meson potong :
1. Pisau Potong, yaiyalah namanya juga mesin potong ==a
2. bantalan Pisau Potong (tepat berada dibagian bawah pisau potong)
3. Penunjuk batas potongan
4. Penekan
5. Meja Potong
6. BOla Tekanan udara
7. Pengaman
8. Panel Program
pada PDF yang kalian download terdapat pengertian dari tiap bagian dan bentuk dari bagian-bagian mesin potong itu sendiri

Don't Forget to say Thank's :)

Sejarah Kertas

Sabtu, Februari 09, 2013 0 komentar

hay sobat grafika :)
harus tetap semangat yah menjalani aktivitas keseharian. Tentu sobat tau kan KERTAS itu apa? yap betul, lembaran tipis yang biasanya berwarna putih yang digunakan untuk proses cetak atau tulis. Nah, pada kesempatan yang langka ini kita pengen ngelejasin ke sobat grafik nih, tentang pengertian kertas dan sejarahnya nih secara mendetail
(Dikutip Dari beberapa sumber : Casey and James, Elderd Nelson, Kuphan Helmut dalam bukunya Handbook Print and media, Muchtar Efnyta dan Muryeti, Wilson Laurance)
silahkan disimak ya sob.


1. Pengertian Kertas
   Definisi Kertas secara umum, kertas adalah bahan hasil kempaan berupa lembaran-lembaran tipis yang terbuat dari serat selulosa yang ditambahkan bahan penolong guna mendapatkan sifat kertas sesuai dengan fungsi dan kegunaanya. secara khusus, kertas adalah kumpulan serat-serat kayu yang didominasi oleh serat selulosa yang tidak beraturan yang dikempa dengan sebelumnya melewati proses pencampuran dengan bahan-bahan tertentu yang bertujuan untuk mendapatkan sifat kertas yang diinginkan.

2. Sejarah Kertas



   Pada zaman Mesir kuno, tepatnya 4000 Sebelum Masehi, manusia menggunakan papyrus sebagai media untuk menulis. Papyrus sendiri adalah tanaman yang tumbuh didaerah tepian sungai Nil, dan cara pembuatannya menjadi lembaran untuk menulis pun tergolong sederhana.
   Karena berkembangnya peradaban, penggunaan papyrus sebagai media tulis akhirnya menyebar sampai ke romawi, maka dari itu di dunia dikenal lah dengan sebutan Paper (Inggris), Papier (Belanda) dan Papel (Spanyol) yang memiliki arti yang sama yaitu Kertas.
   Semakin berkembangnya teknologi dan peradaban, media tulis bukan lagi menggunakan papyrus, ini disebabkan mahalnya harga papyrus dan karena ditemukannya proses pembuatan kertas yang lebih baik. tepatnya 106 SM Tsai Lun yang berasal dari Cina telah menyumbangkan teknologi pembuatan kertas yang jauh lebih canggih lagi, ia menggunakan bahan bambu yang dapat dengan mudah ditemukan didaratan cina hingga akhirnya kertas dengan bahan bambu tersebut tersebar hingga ke Dataran Timur (Jepang, Korea, dll).
   Pada Akhirnya teknik permbuatan kertas ini jatuh ke tangan Bani Abbasyiah setelah kalahnya pasukan Dinasti Tang dalam pertempuran yang terjadi di tahun 751 Masehi dimana para tawanan perang mengajarkan teknik pembuatan kertas kepada orang-orang Bani Abbasyiah, semakin lama berkembanglah pabrik-pabrik kertas di kota-kota baghdad dan menjamur hingga italia hingga akhirnya menyebar ke eropa setelah perang salib.
   Setelah itupun masih banyak peristiwa penyebaran teknik pembuatan kertas hingga ke seluruh dunia, dan hingga saat ini manusia terus mengembangkan kertas dengan berbagai teknik pembuatan dan bahan pembuat kertas, yang lebih mengagumkan, sekarang sudah dikenal dengan kertas Yupo, kertas yang dibuat TIDAK dengan bahan serat selulosa alami ini menggunakan bahan serat yang disintesiskan, perbedaanya terlihat sekali dimana kertas yupo tidak membutuhkan kayu sebagai bahan utamanya, kelebihan dari kertas yupo ini adalah tidak mudah sobek dan berbagai keuntungan lainnya, disamping itu kertas yupo yang masih tergolong mahal membaut penggunaan kertas ini masih sedikit di indonesia.



ternyata kertas yang menurut kita tidak terlalu rumit itu memiliki perjalanan yang panjang ya sob, bukan hanya itu pembuatan kertas pun juga sangat rumit, karena harus memahami aspek-aspek seperti dampak terhadap lingkungan karena faktanya bahan pembuat kertas adalah kayu yang mengandung serat selulosa.
sedikit cerita mengenai serat selulosa, serat ini adalah salah satu bahan pembentuk kayu, lebih dari 50% kayu mengandung serat selulosa, sisanya adalah serat hemi-selulosa, lignin dan bahan-bahan pembentuk kayu lainnya. kemungkinan alasan kenapa industri menggunakan serat selulosa adalah karena mampu memenuhi syarat-syarat sebagai bahan pembuatan kertas (fleksibel, mudah didapatkan, ekonomis, berlimpah dan mudah diperbaharui).

Nah, mungkin kita sudah terlalu jauh yah bercerita tentang serat selulosa, namun itu hanya sebagian kecil dari kutipan tentang serat selulosa, terima kasih sudah menyimak ya sob.
akhir kata, wassalamu'alaikum and don't forget to say thanks :)

Sejarah Grafika Di Indonesia

Kamis, Februari 07, 2013 0 komentar


Hay :) bagi anda sobat grafika tentu tahu kan sejarah dunia kegrafikaan atau printing history di dunia? sedikit cerita kalau sejarah percetakan berawal dari seorang pendeta yang ingin memperbanyak injil, maka dibuatlah alat untuk mencetak huruf demi huruf menggunakan teknik cetak tinggi (dahulu mereka belum mengetahui klasifikasi teknik cetak sob :D).



nah sekarang admin mau share gimana sih sejarah perkembangan dunia grafika di indonesia~
oia, mungkin sebelumnya admin mau menyapa dulu nih teman-teman sobat mahasiswa yang mungkin akan segera bergabung di jurusan tercinta kita Teknik Grafika dan Penerbitan :)
Tanpa berbasa-basi lagi, Check this out sob~ sekalian bawa pulang juga PDFnya sob :) Download disini via Ziddu --> iWowCrew

1. Sejarah Grafika di Indonesia




Pada akhir dekade 70an, di Indonesia terdapat sekitar 1.700 perusahaan percetakan. Demikian catatan keanggotaan Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) yang sempat dikutip Eduard Kimman dalam tesisnya, yang dibukukan tahun 1981. Dengan pertimbangan banyaknya percetakan kecil yang tidak terdaftar di PPGI, Eduard memerkirakan pada saat itu ada sekitar 15.000 percetakan di Indonesua. Kini? Ketua PPGI, Fauzi Lubis, menyebutkan bahwa anggota PPGI ada sekitar 6.000. jumlah sesungguhnya? Pasti jauh lebih besar, tapi tidak ada yang mencatat rapih - tidak Percetakan Negara, tidak juga PPGI. Yang jelas, dunia percetakan adalah bisnis yang sangat berkembang pesat. Selepas tahun 1949, para penerbit pribumi mengeluhkan bahwa di Jakarta hanya terdapat dua percetakan yang dimiliki orang Indonesia asli, selebihnya milik warga Belanda, tahun 1950, terjadi perubahan drastis. Jumlah percetakan milik pribumi di Ibukota meningkat menjadi 23, beda 1 angka di belakang Belanda (yang memiliki 24 percetakan), sementara warga Tionghoa memiliki nyaris 4 kali lipat (86 percetakan). Sehabis itu, jumlah percetakan di Indonesia terus meningkat hingga kini. Dibawa Oleh BELANDA Hadirnya percetakan di Indonesia bermula dari kedatangan Belanda (tibda tahun 1596) dan erat hubungannya dengan VOC. Tahun 1624, misionaris Gereja Protestan Belanda memperkenalkan percetakan di Hindia Belanda dengan membeli sebuah mesin cetak dari Belanda untuk menerbitkan literatur Kristen dalam bahasa daerah, sehubungan dengan keperluan penginjilan. Tapi mesin cetak itu menganggur, karena tak ada tenaga operator untuk menjalankannnya. Baru pada tahun 1659 (35 tahun kemudian), Kornelis Pijl memprakarsai percetakan dengan memroduksi sebuah Tijtboek, yakni sejenis almanac, atau “buku waktu”. Perkembangan percetakan di Indonesia erat sekali dengan sejarah perjalanan surat kabar. Berikut beberapa catatan waktu perjalanan percetakan di Indonesia.

(1667) Pemerintah pusat berinisiatif mendirikan percetakan dengan memesan alat cetak yang lebih baik, termasuk matriks yang menyediakan berbagai jenis huruf.

(1668) Hendrik Brant mencetak dokumen sebagai produk pertama percetakan pemerintah, yaitu Perjanjian Bongaya antara Laksamana Cornelis Speelman dan Sultan Hassanuddin di Makasar yang ditandatangani 15 Maret 1668. Hendrik Brant pada Agustus 1668 mendapat kontrak mencetak dan menjilid buku atas nama VOC dengan upah 86 dolar yang dibayar dengan cara mencicil. Kontrak berakhir 16 Februari 1671.

(1671) VOC mendatangani kontrak baru dengan Pieter Overtwaver dan tiga pegawai Kompeni lainnya (Hendrick Voskens – punch cutter, Piet Walbergen – type-founder, dan Aernout Kemp – ahli cetak) untuk pervetakan yang bernama Boeckdrucker der Edele Compagnie (pencetak buku kompeni). Kontrak berakhir 1695.

(1677) Dokumen dengan kosa kata Belanda-Melayu pertama kali dicetak.

(1693) Dokumen New Testament dicetak dalam bahasa Portugis.

(1699) Pendeta Andreas Lambertus Loderus mengambil alih Boeckdrucker der Edele Compagnie untuk didayagunakan secara maksimal. Banyak karya penting dalam bahasa Belanda, Melayu dan Latin lahir dari percetakannya. Termasuk sebuah kamus Latin-Belanda-Melayu yang disusun oleh Loderus sendiri.

(1718) Pemerintah pusat mendirikan percetakan sendiri di Kasteel Batavia (kasteel = benteng, Batavia saat itu adalah kota yang dikelilingi benteng) untuk kepentingan mencetak dokumen-dokumen resmi.

(1743) Seminarium Thelogicum di Batavia memperoleh satu unit alat percetakan. Pernah menerbitkan Perjanjian Baru (bagian dari kitab suci Agama Kristen, red) dan beberapa buku doa dalam terjemahan Melayu. Tahun 1755 percetakan tersebut dipaksa bergabung dengan Percetakan Benteng.

(1744) Surat kabar tercetak pertama bernama Batavia Nouvelles lahir dari Percetakan Benteng yang dikelola Jan Erdman Jordens, tepatnya pada 8 Agustus 1744. Hanya terdiri dari selembar kertas berukuran folio, yang kedua halamannya masing-masing berisi 2 kolom. Isinya memuat maklumat pemerintah, iklan dan pengumuman lelang. Pembaca bias mendapatkannya setiap senin dari Jan Abel, perusahaan penjilidan milik Kompeni di Benteng. Sebuah sumber menyebutkan, Koran pada saat itu ditulis tangan.



(1745) Surat kabar Batavia Nouvelles dihentikan penerbitannya (20 Juni 1746) atas permintaan Dewan Direktur VOC kepada Gubernur Jenderal, karena surat kabar yang berorientasi iklan dan berisi informasi tentang kondisi perdagangan di Hindia Belanda dikhawatirkan bias dimanfaatkan oleh pesaing Eropa.

(1761) Mulai diberlakukan peraturan percetakan pertama yakni “Reglement voor de Drukkerijen te Batavia” (Juni 1761) di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal A. van der Parra.

(1776) Surat kabar Vendu Niews (VN) diterbitkan oleh L. Dominicus. Ini adalah surat kabar pertama yang bersentuhan dengan orang Indonesia, tiga dasawarsa setelah Bataviase Nouvelles mati. VN merupakan media iklan mingguan, terutama mengenai berita lelang, juga maklumat penjualan sejumlah perkebunan besar dan beberapa iklan perdagangan. Dikenal oleh masyarakat sebagai “soerat lelang”.
(1785) Percetakan Kota dilarang keras mencetak apapun tanpa izin sensor. Penyensoran mulai dilaksanakan di Hindia Belanda pada 1668.

(1809) Surat kabar Vendu Niews menghentikan penerbitan pada masa pemerintahan Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811). Ditahun yang sama, Daendels membeli Percetakan Kota dan menggabungkannya dengan Percetakan Benteng menjadi Landsdrukkerij, yang sekarang bernama Percetakan Negara. Sebelum namanya menjadi Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) pada tahun 1950, Perum PNRI telah mengalami beberapa kali perubahan nama. 1942, namanya Gunseikanbu Inatsu Koja (GIK), 1945 berubah lagi menjadi Percetakan Republik Indonesia (PRI), lalu melalui Peraturan Pemerintah no. 46 Tahun 1991, PNRI menjadi Perusahaan Umum (Perum). Percetakan Negara masih eksis hingga kini.

(1810) 15 Januari 1810 terbit edisi pertama mingguan resmi pemerintah, Bataviasche Koloniale Courant yang diasuh oleh professor (Kehormatan) Ross, pendeta komunitas Belanda di Batavia sejak 1788. Isinya memuat juga iklan, mulai dari tali sepatu hingga budak belian. Penerbitan berhenti 2 Agustus 1811, persis seminggu sebelum Batavia jatuh ke tangan Inggris.




(1812) 29 Februari 1812, pemerintah yang baru (Inggris) menerbitkan Java Government Gazette, mingguan yang sebagian besar berbahasa Inggris, dicetak oleh A.H. Hubbard.

(1831) Muncul surat kabar partikelir pertama. Ini terlambat, mengingat kendalanya adalah kesulitan mendapatkan alat untuk membuat huruf timah. Tapi yang lebih penting dari itu adalah ketiadaan tenaga (kompositor) terampil. Karena itu percetakan misionaris menjadi satu-satunya percetakan non pemerintah yang bergiat dalam cetak-mencetak selama abad ke-18.

(1855) Surat kabar pertama berbahasa Jawa terbit di Surakarta sekali seminggu, namanya Bromartani. Diterbitkan oleh perusahaan kongsi Belanda, Harteveldt & Co.

(1910) Di Jakarta terbit surat kabar nasional yang pertama, Medan Prijaji.



(1921-1922) Pabrik kertas pertama, N.V. Papier Fabriek Padalarang, dibangun di Padalarang dengan kapasitas produksi 9 ton per hari.

(1939-1940) Pabrik kertas kedua dibangun di Jawa Timur, dekat daerah Letjes, Probolinggo, oleh pemilik pabrik yang sama dengan yang di Padalarang.

(1949) Di Jakarta hanya terdapat 2 mesin printing yang dimiliki oleh warga pribumi. Percetakan milik warga asing hanya berproduksi untuk kepentingannya saja.

(1950) Jumlah perusahaan percetakan nasional (milik pribumi) di Jakarta meningkat menjadi 23 buah. 24 lainnya dimiliki warga asing (Belanda), sementara 86 lagi milik warga Tionghoa.

(1951) Dari data resmi, terdapat 150 perusahaan percetakan di Jawa TImur (75 di Surabaya, 18 di Malang, dan sisanya tersebar di daerah dan sekitarnya).

(1953-1954) Percetakan Negara melakukan proyek modernisasi percetakan yang ambisius dengan membeli sebuah mesin web-offset 4 warna.

(1969) Pemerintah Belanda bekerja sama dengan Departemen Pendidikan & Kebudayaan Indonesia mendirikan institusi pendidikan dan pelatihan SDM di bidang grafis, Pusat Grafika Indonesia (Pusgrafin) di Jakarta. Antara tahun 1969-1978, sekitar 2.000 orang mengikuti kursus composing, printing, binding, machine maintenance, lay-out, management, dll.

(1976) Sebanyak 385 mesin cetak offset diimpor ke Indonesia.

(1992) Teknologi Computer to Film (CTF) masuk ke Indonesia. Awalnya hanya percetakan-percetakan besar saja yang memilikinya. 1995, percetakan-percetakan menengah dan kecil mulai mengapdosi. Hingga tahun 1997, pengguna CTF bias dibilang sudah merata.

(2000) Masuknya teknologi Computer to Plate (CTP) mulai menggeser CTF dan ikut berdampak pada menurunnya bisnis repro. Dulu merek-merek yang terkenal untuk mesin ini adalah Heidelberg dan AGFA. Sekarang sudah mulai banyak pemain baru, seperti Screen, Scitex dan Basys Print.

PERKEMBANGAN TERAKHIR DI INDONESIA
Saat ini percetakan besar di Indonesia sudah mulai mengapdosi teknologi Computer to Press berupa direct imaging (memakai master) dan Computer to Print (tanpa master) yang banyak menggunakan teknologi mesin digital printing. Salah satu mesin cetak yang terkenal di kelas ini adalah HP Indigo. Bahkan percetakan-percetakan kini sudah melengkapi peralatannya tidak hanya untuk urusan pre-press, tapi juga post-press (proses finishing seperti cutting, binding, folding, stiching, embossing, dan lain-lain), sehingga percetakan menjadi bisnis one-stop service yang semakin berkembang.
(1970-an) Industri percetakan di seluruh dunia berganti ke teknologi offset. Dua perusahaan percetakan Cina terbesar, Sin Po dan Keng Po membeli mesin cetak rotasi untuk Koran yang tetap digunakan hingga 1970-an. Surat kabar Sinar Harapan (sejak 1961) dan Kompas (sejak 1965) pernah menggunakan fasilitas mesin printer ini hingga mereka memiliki mesin cetak sendiri tahun 1970-an.



itu saja yang bisa kami sampaikan buat sobat grafika :)
don't forget to say thanks 

 
iWowCrew © 2011 | Designed by Interline Cruises, in collaboration with Interline Discounts, Travel Tips and Movie Tickets